Yang Belum Pernah Ditanyakan
Di tengah distorsi gitar dan pukulan drum yang sahut-menyahut dengan bass, sang vokalis mengulang chorus dengan pertanyaan yang sama, “aku siapa, ada di mana, dan mengapa.” Si pendengar mulai khidmat menelaah bait demi bait dari lagu itu lewat ponsel murahnya yang sudah tidak merespons ketika disentuh. Ia tenggelam, dan mulai bertanya, aku siapa? aku ada di mana? mengapa aku ada?
Si pendengar kembali menyibukkan diri, mencari jawaban tentang siapa dirinya. Apakah ia adalah bentuk dari musik-musik yang ia dengar, atau ia adalah film-film yang ia tonton, atau ia adalah buku-buku yang ia lahap sejak mulai mengeja. Si pendengar mulai kebingungan dengan pertanyaan yang tampaknya sederhana, siapa ia sebenarnya?. Apakah ia bisa menjadi apa pun yang ia mau? Apakah ia bisa menjadi sosok yang ia rancang dalam skenario-skenario sebelum tidur?
Si pendengar mulai mencari pertolongan ke lirik-lirik lagu yang datang dari algoritma yang ia yakini mencerminkan seleranya. Ia membaca buku-buku kembali, menonton film-film kembali, ia beribadah kembali. Tapi setiap sumber yang ia datangi hanya memantulkan pertanyaan yang sama, tidak pernah menjawabnya. Pertanyaan tadi tetap tidak kunjung bisa ia jawab dengan mudah.
Apakah pertanyaan itu harus dijawab sekarang? Atau kemarin? Atau esok? Atau mungkin ia tidak akan punya jawabannya sepanjang hidupnya, entahlah. Pertanyaan itu selalu ada, tapi ia terlalu sibuk mencari ke musik, ke film, ke buku, ke ibadah, sampai tidak pernah benar-benar berhenti dan menghadapi dirinya sendiri.